Cerita Roman Fiksi Remaja #2

Cerita Roman Fiksi Remaja

Part 2#Binar

Sambas, pada hari senin di sekolah, tahun 2012. Gadis putih berambut keemasan berjalan lincar di beranda kelasku. Senyumannya menebar manja, alis dan bibir tipisnya memeronakan pagi sedingin ini. Aku baru saja tiba, ketika lonceng sekolah sudah lima menit yang lalu dipukuli. Para siswa lain sudah berbaris rapi menghadap tiang bendera. Halaman hanya dihiasi tiga warna, hijau rerumputan, baju putih dan biru di bawahnya. Sementara, langit pagi itu juga sedang biru-birunya. Aku bergerak cepat memasuki kelas. Segera kubuka jaket hitamku dan menaruh tas di atas meja setelah kuambil topi biru di dalamnya. Sialannya, aku lupa lagi membawa dasi. Baiklah, suka atau tidak akan ada hukuman lagi hari ini. Entah sudah senin keberapa hari ini, dan selalu akan ada aku di deretan siswa yang mendapat hukuman.

Aku merapatkan diri di barisan paling belakang, di jajaran teman-teman sekelasku. Upacara sudah dimulai, musibah juga akan segera menghampiri kami, para siswa yang tidak melengkapi seragam. Aku berdiri tenang. Aku sudah siap jika namaku terpampang lagi di buku merah milik Pak Budiman, buku nama-nama para pembangkang dan pelanggar ketertiban di sekolah ini. Sebenarnya aku jengkel dengan aturan sekolah yang menurutku terlalu kaku dan dibesar-besarkan. Bahkan tak jarang orang tua kami harus mendapat undangan khusus dari kepala sekolah hanya gara-gara hal sepele menurut kami. Itu menyebabkan beberapa kali orang tua kami, terutama orang tuaku yang bekerja menyadap karet harus merelakan pendapatannya berkurang hanya karena hal yang sangat tidak penting. Sekolah sudah seperti penjara kecil dengan segala aturan dan selera guru-guru. Segala bentuk pelanggaran yang kami lakukan bahkan lebih sering mereka lakonkan sendiri, dan tentu hukuman tak berlaku bagi penguasa.

Sang raja siang sudah menanjak di balik genteng sekolah seiring kibaran bendera yang semakin meninggi. Aku tak bisa menatap tajam ke arah bendera karena mentari sangat cerah pagi ini. Tanganku masih hormat sempurna pada sang Saka Merah Putih. Sementara, yang lain malah menutupi wajah mereka dari sinar matahari yang sudah mulai menyengat. Alunan lagu Indonesia Raya dengan khidmat dinyanyikan, membuatku teringat dengan masa-masa Sekolah Dasar. Masa di mana Pak Ris guru PPKN dengan susah payah mengajari kami lagu ini. Entah kenapa ada perasaan sedih menjalar ke ulu hatiku setiap mendengar lagu ini. Lagu terindah yang dengan bangga kunyanyikan di depan kelas karena terlebih dahulu menghafalnya dibanding teman-temanku.

Tak berapa lama, setelah sang Saka Merah Putih berkibar sempurna di ujung tiang, saat pembina upacara berbicara. Pak Budiman segera turun dari koridor sekolah, tempat berbarisnya para guru. Pak Budiman mulai berjalan di barisan siswa-siswi. Terlihat olehku beberapa siswa mulai dibentak dan dipisahkan dari barisan. Sementara, tak sedikit pula yang berjatuhan pingsan. Bukan karena dibentak, melainkan lemahnya fisik sehingga tidak mampu bertahan hingga upacara selesai. Setiap senin selalu banyak yang pingsan ketika sedang upacara pagi, apalagi dengan kondisi yang panas begini. Aku bahkan sudah hafal dengan orang-orangnya. Orang-orang yang setiap seninnya selalu dibawa ke ruang UKS. Namun, ada pemandangan berbeda hari ini, berpuluh-puluh siswi bergeletakan di tanah. Halaman sekolah riuh, beberapa siswi berteriak karena kaget dengan temannya yang tiba-tiba jatuh tergeletak. Pak Budiman masih tetap dengan tugasnya, semakin mendekat ke arahku.

Wajah Pak Budiman merah terbakar. Baju coklat muda di bagian dadanya dilumuri keringat, dahinya mengerut, derap langkahnya cepat dan menakutkan. Kini, ia tepat di hadapanku. “Mane dasimu?” menatapkan tajam matanya.

Aku mencoba menjawab setenang mungkin. Wajahnya yang merah dengan lamat kutatap “Ketinggalan dalam kalas, Pak,” dengan nada sedikit tegas agar terdengar meyakinkan. Belum dua detik aku bicara, jawabanku langsung ditanggapi Pak Budiman. Nada bicaranya semakin meninggi.

“Alasan. Cappat, maju ke depan.”

Aku berbaur dengan siswa-siswi yang juga tidak melengkapi seragamnya. Aku mengurungkan niatku untuk berbohong. Sebetulnya, bisa saja aku meminjam dasi salah satu siswi yang pingsan, kebetulan mereka dibawa ke ruang UKS melewati ruang kelasku. Hal seperti itu tentu saja bisa kulakukan. Namun, aku lebih memilih mendapat hukuman daripada lebih parah jika ketahuan berbohong nantinya.

---

Baca Juga: Novel Nafsu Berahi Part 1

Aku bersyukur dihukum hari ini, aku belum pernah mendapat hukuman sebahagia ini. Yang membuat aku bahagia bukanlah karena dihukum di dalam ruangan membersihkan perpustakaan. Sebabnya ialah, hari ini ada wajah berbeda dari senin-senin sebelumnya yang juga mendapat hukuman. Gadis berambut keemasan itu? Iya, gadis yang rambutnya hampir dipotong Pak Budiman di dalam ruang guru tadi. Aku juga kaget mendengarnya, tak ada yang mengira bahwa rambut itu ternyata asli. Tanpa diwarnai. Entah apa yang menyebabkannya menjadi kuning keemasan seperti itu, yang jelas dia begitu cantik dengan rambutnya yang terkesan aneh. Bahkan beberapa guru bergantian membelai rambutnya, seolah tidak memercayai bahwa itu memang benar-benar asli.

Diam-diam aku memerhatikan tingkah wanita itu. Tidak ada yang aneh dari tingkah lakunya, tidak seperti warna rambutnya. Satu per satu buku-buku yang berserakan mulai tersusun rapi olehnya. Sesekali kulihat ia begitu fokus membaca buku puisi. Aku juga masih dengan pekerjaanku merapikan kursi dan meja yang berantakan, sambil sesekali melirik. Ia tak sama sekali bicara, begitupun aku. Hanya kami berdua di ruangan. Sementara, yang lain dihukum membersihkan toilet dan mushola.

“Hey, ape yang kau liat,” suara Pak Budiman keras dan sangar hingga membuat aku terperanjat. Sial, aku kedapatan oleh Pak Budiman tengah memerhatikannya. Terlihat wanita itu juga kaget mendengar suara Pak Budiman yang tanpa permisi masuk ruangan. Aku tak sadar telah menatapnya sedemikian tenang hingga tak sadar ada Pak Budiman masuk ruangan.

“Daan, Pak,” aku sedikit panik dan langsung merapikan buku yang berserakan. Wanita itu menoleh ke arahku namun dengan muka yang datar. Sebetulnya aku mengharapkan senyum darinya.

“Capat rapikan, bentar agek istirahat,” perintah Pak Budiman lalu ke luar ruangan.

Ada pikiran terlintas di benakku bahwa aku harus bisa bicara dengannya. Entah apa yang membuatku berpikir demikian. Aku hanya ingin lebih dekat dengannya dan ini adalah satu kesempatan untukku. Namun, kuakui aku terlalu lemah. Melempar satu kata untuk membuka obrolanpun aku tak sanggup melakukannya, bibirku kaku, lidahku kelu, sementara hasratku begitu menggebu.

Waktu begitu cepat berputar, kulihat jam bundar berwarna biru di dinding sudah pukul sembilan lewat dua puluh lima menit, itu berarti lima menit lagi jam istirahat tiba dan hukuman selesai. Selesai juga kebersamaanku dengan wanita berambut keemasan itu pikirku.

Baru kali ini aku ingin memperlambat waktu istirahat, memperlama hukuman yang diberikan Pak Budiman. Keinginanku untuk mengenalnya kali ini harus pupus. Ia keluar ruangan tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Langkahnya yang gemulai diiringi suara lonceng menyebalkan. Aku bergumam dalam hati. Aku hanya bisa tersandar di kursi meratapi kebodohanku. Aku tak tahu kapan lagi akan mendapat waktu seperti itu dengannya. Perasaanku semakin tak menentu. Jika saja ia dihukum lagi, sungguh aku akan mencari masalah agar mendapat hukuman juga bersamanya.

Siang berganti malam. Putih berganti batik. Batik berganti coklat muda dan aku hanya melihatnya dari depan kelasku setiap harinya. Bahkan, aku lebih sering keluar kelas dengan harapan dapat berjumpa dan bicara dengannya. Entahlah, mungkin jika benar dihadapkan di depannya bisa-bisa aku terkencing dalam celana karena tak tahu apa yang akan kubicarakan padanya. Aku memang payah, menginginkan jumpa namun tak tahu harus berbuat dan berkata apa. Tidak enak memang berada di situasi seperti ini. Sebatas mengagumi aku rasa tidak begini. Aku yakin ada rasa lebih dari sebatas kagum yang menghantui dan menjalar di darahku.

---

Baca Juga: Novel Nafsu Berahi Part2

Hanifa Sazwa, ia adalah gadis kelas VIII A, adik kelasku dan juga adik kelas Nika. Nika adalah teman satu kelasku yang berteman baik dengan Hanifa. Beberapa minggu lalu aku dikenalkan Nika pada Hanifa ketika jajan di kantin. Hanifa rupanya sudah lama mengenalku. Aku tidak tahu dari mana, yang jelas ia mengatakan sudah lama kenal. Aku masih ingat, belum berapa lama setelah aku menghabiskan nasi goreng telurku ia mulai berbasa-basi, bicara tentang hal-hal yang tak sama sekali menarik menurutku. Hanifa cukup ramah, ia selalu tersenyum lebar di hadapanku. Ia juga sosok wanita yang menyenangkan. Tidak seperti kebanyakan wanita yang sok-sokan anggun di depan para lelaki. Aku tahu itu karakter aslinya Hanifa, senang bercanda dan penebar senyum. Terlihat dari cara dia yang tak canggung sama sekali berkata.

Sejak perkenalan hari itu, Hanifa seolah akrab sekali denganku. Tiap waktu istirahat ia selalu bertandang ke kelas kami. Aku tahu ada Nika di sana yang menjadi alasannya menjambangi kelas kami. Padahal sebelum hari perkenalan di kantin itu ia tak pernah sama sekali masuk ke kelas kami. Sejak hari itu juga tiba-tiba pesan masuk di ponselku bertuliskan pesan namanya. Aku tidak menanyakan balik dari mana ia mendapatkan nomorku, karena aku sudah mengira Nika-lah yang menjadi jembatan penghubungnya. Aku hanya membalas “Oke,” dan tak ada pesan balik lagi darinya.

Malam belum terlalu pekat, baru setengah jam aku pulang dari mesjid setelah salat isya. Gemintang berpendar, gemerisik angin dan separuh cahaya rembulan menemaniku menikmati segelas kopi hitam di beranda rumah. Lantunan ayat suci dengan merdu ibuku baca, terdengar samar-samar namun begitu mendamaikan. Desiran angin di pohon asam depan rumah semakin bergemerisik menggoyangkan dedaunan. Awan hitam berpencar tetapi tetap satu tujuan, mengarah ke barat. Pesan masuk di ponselku seketika membuyarkan tatapanku pada arakan awan yang berjalan searah. Kuseruput dahulu kopi dalam gelas putih sebelum menjangkau ponsel. Itu pesan dari Hanifa. “Agek ape?” tanyanya begitu singkat, hanya menanyakan sedang apa. Tanpa basa-basi. Aku tidak tahu apakah tanya seperti itu juga bagian dari basa-basi. Namun, yang jelas aku tak sama sekali berpikiran tentang basa-basi itu.

“Agek dudok, Fa,” aku membalas dengan menyebut ujung namanya agar tidak terkesan cuek.

“Kitak ade PR, kan?” pertanyaan itu tidak pernah kudapat dari teman-temanku, karena memang aku tidak pernah mengerjakan PR. Seperti kebanyakan temanku yang lain, aku juga tidak begitu peduli soal Pekerjaan Rumah yang diberikan guru. Bagiku rumah dan sekolah adalah dua dunia yang berbeda untuk dicampuradukan. Jika sedang di rumah tidak ada urusan lagi dengan tugas sekolah. Masalah PR itu urusan di sekolah. Lagipula, akan ada teman yang juga mengerjakan itu besok pagi dan aku bisa mencontek.

“Daan tau, Fa,” aku benar-benar tidak tahu.

“Ade, Dib. Isok dikumpolkan. Tugas biologi,” ia memberitahu. 

“Oh aoglah, Fa,” aku tidak tahu harus membalas apa lagi.

Jujur aku bahagia sekali mendengar pesan masuk setelahnya. Aku belum pernah sama sekali merasa diperhatikan seperti ini. “Tanang, udah kukerjekan semue, Dib,” aku tersenyum sendiri membaca pesan singkatnya. Aku tidak tahu apa yang melatarbelakangi ia melakukan itu. Aku juga baru ingat ketika ia mengatakan tugas biologi, tugas itu cukup banyak dan cukup melelahkan jika dikerjakan. Lama aku berpikir untuk membalas pesannya.

“Haha, tau dari mane kamek ade PR, Fa?” jujur ini basa-basi, karena tanpa ia beritahupun aku sudah mengira bahwa ia tahu dari Nika. Sumpah demi setan ia tahu dari Nika, aku sangat yakin itu.

Kuseruput kembali kopiku yang tinggal separuh gelas. Lama aku tertegun di bawah sinar rembulan yang sesekali hilang sinarnya oleh kumpulan awan yang melintas. Lima menit berlalu, tak ada balasan darinya. Aku memutuskan beranjak. Kutaruh gelas kopiku ke meja di ruang tengah. Aku kembali keluar rumah menghampiri lima orang yang sepertinya serius sekali berbincang. Aku duduk di warung kopi juga bersama lima orang tua. Aku memisahkan diri dari kelimanya, memisahkan diri dari meja mereka. Tidak ada temanku Irwan, Redi dan Nirman malam ini, mungkin belum datang.

“Aku udah ngire die korupsi,” Pak Nurdin seperti meyakinkan, ia sulut rokok yang terjepit di bibirnya. Sedikit lama ia terdiam, “udah dari dolok aku curige,” tambahnya setelah menghembuskan asap dan menarik asbak.

Pak Rusdi menanggapi serius. “Udah dilaporkan belom, Long?”

Perbincangan ini tampaknya memang benar-benar serius. Aku fokus menyimak perbincangan hangat dan menegangkan ini. Pak Rusdi sepertinya benar-benar tidak tahu hingga bertanya sudah dilaporkan atau belum.

Aku belum terlalu paham dengan topik permasalahan apakah benar atau tidak kasus itu. Sebenarnya, aku tidak begitu tertarik dengan obrolan orang-orang tua di warung kopi. Namun, kali ini aku sangat penasaran karena sudah seminggu terakhir berita kepala desa korupsi ini riuh di desa kami. Setiap obrolan orang-orang mengarah ke satu titik pelaku yaitu, kepala desa muda. Kepala desa yang sebelum menjabat jadi kepala desa adalah guruku waktu Sekolah Dasar. Guru PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) yang selalu mengajarkan nilai-nilai kewarganegaraan pada kami. Kini, mungkin ia akan berhadapan dengan hukum karena kejahatan yang dibuatnya. Sungguh berwarganegara sekali pak guru. 

“Kate Sekdes (Sekertaris Desa) udah diproses. Tapi ntah inyan ntah bulak dak taulah. Soalnye aku maseh liat die tadek sore, rupe sek lalu susahnye,” memang benar apa yang dikatakan Pak Nurdin, kepala desa itu memang tak terlihat susah sama sekali. Aku juga melihatnya sore tadi. Pak Nurdin mengibas-ngibaskan baju yang ia lepas dari badannya. Aku tahu ia sedang kepanasan. Memang ini malam hari, namun, jika sudah emosi tak peduli hujan atau mendung. tak peduli siang atau malam, panas itu akan perlahan menjalari tubuh. 

Pak Anton membuka topi dan menaruhnya di atas meja sambil bicara. “Dangar-dangar isok ade rapat di balai desa. Jam berape mulenya, Long?” Pak Anton yang dari tadi serius mendengarkan akhirnya juga bicara.

“Jam sembilan. Datang lah kite isok, mungkin nak bahas soal kasus korupsi juak kali,” ajak Pak Nurdin. “Bile parlu kite mintak data-data dana desa isok. Supaye jallas duitnye dipakai untok ape,” tambah Pak Nurdin dengan nada sedikit menantang “Tampang polos macam iye tapi otak perampok. Kurang ajar inyan,” lanjutnya semakin mempertegas ucapan juga kelihatan begitu geram.

“Urang mun dah liat duit banyak, lupak dengan dose, lupak dengan agama, lupak dengan bini, Long,” Pak Ogel ikut bicara “payah nyarek urang yang jujor mun dah urusan duit tok, ape agek liat yang merah-merah, bawaannye rase nak carek bini agek, Long,” sambungnya dengan nada bercanda. Pak Ogel tertawa sambil menjangkau korek api di atas meja. Wajahnya yang mulai kendur dan gigi yang mulai jarang membuat aku juga tertawa kecil melihatnya. Ditambah rambut putih jarang-jarang, kumis putih melintang bebas di bawah lubang hidungnya. Semuanya juga tertawa, termasuk Pak Nurdin yang dari tadi begitu serius.

“Ha, mun dah banyak tabongan yang merah-merah barok boleh ikut sunnah. Carek bini agek. Inyan dak, Gel?” Pak Jafar nimbrung dan ikut tertawa lepas.

“Battol inyan ye. Supaye bise adil dan makmur rumah tanggak,” jawab Pak Ogel langgeng, masih dengan tawanya. Disusul juga oleh tawa Pak Jafar, Anton, Rusdi dan Pak Nurdin, termasuk aku yang juga tertawa mendengar ucapan Pak Ogel.

Satu hal yang kutangkap dari keburukan masyarakat di desa yaitu, tentang kritik kepada kepala desa atau pemerintahan desa. Stigma yang masih berkembang adalah pengeritik selalu dikucilkan dan dianggap pengacau di desa. Padahal pengeritik itu adalah orang yang menurutku punya pemikiran kritis dan sangat dibutuhkan untuk mengawasi pekerjaan pemdes, lantas masyarakat malah menganggapnya sebagai pengacau di desa. Kendati ia punya dendam pribadi atau tidak itu masalah lain, yang terpenting adalah isi dari kritik yang ia lontarkan. Hal semacam ini yang masih berkembang di desa, itu sebabnya kepala desa bersama anak buahnya dengan leluasa menyelewengkan dana desa yang seharusnya untuk kepentingan masyarakat. Masyarakat desa cenderung apatis terhadap hal semacam ini. Padahal jika ditelaah lebih jauh, memang benar kepala desa beserta pemerintahannya kadang tidak terbuka dengan keluar masuknya dana desa dan pemanfaatannya pun kadang tak tahu untuk apa.

“Urang kampong kite tok payah nyadarkannye, Long. Mun kite kritik palak kampong malah kite yang dianggap pengacau lah urang kampong,” ucap Pak Anton di tengah tawa yang sedikit mereda.

Pak Nurdin kembali menajangkau korek, “Iyelah masalah urang kampong kite, tok,” ia sulut kembali rokoknya, “seharusnye masyarakat ikut ngawal keluar masoknye dana desa, dan pemanfaatanye tappat atau daan untok kepantingan masyarakat,” Pak Nurdin kembali serius walaupun tawa di wajahnya belum sepenuhnya hilang.

Malam ini bintang berkedip indah menghiasi obrolan di warung kopi dekat rumahku. Cahaya keemasan bulan juga tak kalah indah turut serta melengkapi. Malam begitu sunyi, terdengar jelas olehku jangkrik sahut-menyahut di balik pepohonan rindang seberang jalan. Aku keluar, sedikit menjauhi obrolan karena ada panggilan masuk di ponselku. Redi menelepon menanyakan keberadaanku. “GPL,” ucapnya sebelum memutus panggilan. Redi memberitahu bahwa mereka sedang ngumpul di rumah Irwan. Katanya ada Nirman juga di sana. Aku mengiyakan dan berjalan menuju rumah Irwan yang jaraknya kurang lebih 200 meter dari rumahku. Aku berjalan di bawah sinar keemasan bulan, kerlip gemintang dan sunyi malam, juga diiringi suara jangkrik yang terdengar tak sendiri. Tiba-tiba aku teringat gadis berambut keemasan setelah beberapa kali mendongak ke atas, melihat rembulan yang dari tadi memamerkan sinarnya padaku. “Binar” kata itu terlintas di benakku. Aku tersenyum sendiri, menginggat gadis berambut aneh itu. Sejak malam ini aku sepakat dengan diriku sendiri untuk menamainya Binar. Binar adalah sinar, cocoklah untuk dia yang memiliki rambut keemasan pikirku sambil menyunggingkan senyum.

Kulihat kembali ke belakang kelima orang tua tadi, sudah cukup jauh kutinggalkan, tapi tawa mereka masih terdengar jelas di telingaku. Begitulah orang tua di kampungku, mereka terlalu baik dan selalu punya cara menertawakan masalah. Seketika itu aku langsung teringat kata almarhum nenekku ‘Orang yang paling bahagia hidupnya adalah orang-orang yang mampu menertawakan masalah.’  Entah dari mana kalimat itu ia dapatkan dulu, yang jelas itu adalah satu kalimat yang sangat melekat di ingatanku. Ini versi aslinya dalam bahasa melayu Sambas ‘Urang yang paling bahagie idupnye adelah urang-urang yang bise nawakkan masalah.’ Aku tidak tahu apakah itu juga berlaku untuk masalah orang lain? Sepertinya iya, sebab seringkali kudengar kalimat; tertawa di atas penderitaan orang lain baru-baru ini. Mungkin itu juga yang dimaksud nenekku. Tapi... Ah, sudahlah.

---

Baca Juga: Novel Nafsu Berahi Part3

Seperti pagi biasanya, hari ini tidurku dikagetkan oleh dering panggilan di ponselku, memaksa aku untuk bangun dan berangkat sekolah. Hampir setiap pagi setelah perkenalanku dengan Hanifa ponselku jadi lebih ribut dari biasanya. Aku tidak tahu apa maksudnya setiap pagi membangunkanku dengan menelepon. Aku tidak pernah menanyakan alasannya, tidak mungkin juga menurutku untuk dipertanyakan. Aku hanya menerka-nerka bahwa dia menyukaiku, walaupun itu belum pasti untuk dijadikan suatu jawaban. Namun, apalagi alasannya jika bukan karena itu? “Udah bangun?” pertanyaan yang sama setelah aku menerima panggilan dan ia memutusnya lalu bertanya lewat message (pesan). Aku keluar kamar setelah beberapa menit terdiam di atas kasur, memikirkan hal itu tanpa membalas pesan.

Nirman sudah menunggu di depan rumahku. Jarak dari rumahku ke sekolah sekitar 15 menit menggunakan motor. Aku keluar menghampiri setelah selesai mengenakan sepatu, dan menyeruput kopi yang kubawa ke teras rumah. Kubawakan Nirman kopi yang baru saja kuseruput setelah ia menunjuk gelas kopiku. Ia tampak masih begitu mengantuk, rambutnya masih acak-acakan. Matanya masih malas untuk dibuka. Jelas sebagai seorang teman sejak lahir aku tahu bahwa ia tidak mandi. Itu sudah sering dilakukannya. Ia seruput dengan nikmat kopi dariku tanpa bergerak dari motor tuannya. Aku bergegas menaruh gelas yang sudah kosong di meja depan teras. Aku tidak memasang dasi merah putihku, begitupun Nirman. Biasanya jika sudah sampai di sekolah kami baru sibuk memasangnya karena takut dihukum jika terlihat oleh guru, terlebih Pak Budiman yang garangnya minta ampun.

Sepertinya ada kabar buruk di sekolahku. Kami baru saja tiba dan sekolah tampaknya sedang tidak baik-baik saja. Siswa-siswi berhamburan keluar kelas. Di seberang kelasku terlihat puluhan siswa-siswi berkumpul sambil teriak histeris. Guru-guru juga ikut panik, bagaimana tidak, lima siswi di kelas tersebut serentak kesurupan. Aku mengetahuinya dari Hino sebelum ia ikut berlari menghampiri kelas tersebut. Aku dan Nirman tersenyum, aku sudah tahu apa yang dipikirkan Nirman. Begitupun Nirman, ia tampak mengetahui pula apa yang sedang ada di pikiranku. Aku dan Nirman berlari ke Mushola. Kulihat Nirman sudah memakai peci hitam dibalut kain putih. Aku tertawa sejadi-jadinya. Begitupun dia, wajahnya merah menahan tawa. Aku mengurungkan niat untuk memakai peci seperti Nirman, sungguh aku tidak pandai berakting. Ia mengisyaratkan untuk tenang dan menahan tawa sebelum berjalan. Aku mengiyakan.

Sontak, siswa-siswi terbahak melihat kehadiran kami menuju ruang kelas itu. semuanya menepi mempersilahkan kami masuk. Tidak ada guru. “Selasaikan, Man,” ujar Hino masih dengan tawanya. Nirman masuk dengan percaya diri. Sungguh kulihat wajahnya sedang menahan tawa. Aku memutuskan mengikuti di belakangnya sambil sebisa mungkin tidak tertawa. Kelima siswi yang kesurupan sudah dipisahkan dan dijaga oleh siswi lain. Entah apa yang ditertawakan setan-setan itu, ia senang sekali berada di tubuh para siswi. Ada satu yang teriak histeris hingga melepas jilbabnya. Rambutnya terurai sambil teriak-teriak tidak jelas. “Aek, aek,” Nirman tampak serius kali ini. Entah apa yang ia baca sambil memegang satu botol air itu. Perutku sudah terasa membatu menahan tawa sedari tadi. “Diam,” aku terkejut dengan teriakan Nirman. Namun tawaku kembali lepas ketika memperhatikan ia sedang memegangi kepala salah satu siswi yang kesurupan. Seketika aku segera menahan tawa. Tampaknya hal sama juga dilakukan yang lain. Bagaimana tidak, Nirman memang terkenal dengan kelakarnya setiap hari, lalu tiba-tiba sekarang jadi orang terserius sekaligus merangkap jadi pengusir setan, hal itu mungkin yang menjadi lucu.

Semua terdiam, termasuk aku. Tampaknya Nirman sendiri juga heran. Kulihat wajahnya seperti tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Suasana menjadi lebih tenang. Guru-guru mulai berdatangan ketika lima siswi yang kesurupan terdiam oleh teriakan Nirman. Entah apa yang membuat setan itu nurut sekali dengan ucapan Nirman. Aku tahu setan-setan itu belum keluar dari tubuh kelima siswi malang itu. Kulihat matanya masih menatap kosong ke wajah Nirman. Nirman menoleh ke arahku, ke arah para guru dan juga ke arah siswa yang menunggu apa yang akan ia lakukan setelahnya. Aku tahu Nirman kebingungan untuk melakukan apa lagi. Sementara, para siswa dan guru sudah menunggu dan terlihat mulai memercayainya. Aku juga mulai merasa takut ketika mata kelima siswi itu menatap wajah Nirman, bagaimanapun aksi ini hanya kami lakukan untuk guyonan semata dan kami tidak mengira setan itu akan menanggapi ucapan Nirman begitu serius. Aku menatap Nirman yang kebingungan.

“Capat-capat bawak ke ruang UKS,” Pak Budiman membelah kerumunan dan menyuruh siswi lain untuk membawa kelimanya ke ruang UKS. Sungguh, kalimat itu segar sekali terdengar. Syukurlah Pak Budiman datang pikirku. Nirman menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan setelah kelima siswi itu dibawa keluar kelas.

Beberapa siswa masih menetap bersama kami di ruang kelas. Tawaku kembali meledak melihat wajah Nirman yang pucat dan berkeringat. Begitupun beberapa siswa, turut terbahak melihat gelagat Nirman dengan kelakarnya menggunakan peci dibalut kain putih itu.

“Memang battol, cume modal yaken daan cukup nak melawan antu,” tawaku tak bisa kuhentikan saat mengatakan itu pada Nirman. Ia juga turut tertawa.

“Memang kurang ajar Ki Amat, dibulaeknye tolen kite,” Nirman mencopot peci dan sedikit menghentakkannya di atas meja, namun wajahnya masih dibalut tawa.

Ki Amat adalah tukang urut di kampung kami. Kebetulan malam tadi ada di rumah Irwan ketika kami ngumpul. Ia mengurut ayah Irwan. Umurnya kira-kira tujuh puluh tahunan, dengan rambut putihnya yang sudah tak lagi lebat. Setelah selesai mengurut, kami mulai mengobrol dengannya sambil menikmati kopi, juga ditemani ayah Irwan. Belum berapa lama kami mengobrol tiba-tiba Ki Amat memberikan tips untuk menyadarkan orang yang kesurupan setan. Sebab, di layar kaca menampilkan acara ngobrol bareng setan. Katanya itu sudah ia praktekkan kurang lebih sepuluh kali dan semuanya berhasil hanya dengan modal ‘Yakin’ saja.

Aku menyanggahnya tadi malam dengan mengatakan “Mustahel cume modal yaken, Ki? Pasti ade doa-doanye yang balom Aki padahkan ke kamek, tok,” aku memercandainya, karena memang Ki Amat juga orang yang suka bercanda kepada siapapun termasuk kepada remaja seperti kami.

“Aok, Ki. Mintaklah, Ki doanye,” timpal Nirman serius.

“Sean doa ape-ape. Yang panting yaken. Mun daan yaken biar nak doa sunat kitak bace pasti daan didulikan antu kitak,” semua tertawa mendengar ucapan Ki Amat termasuk ayah Irwan.

---

Baca Juga: Novel Nafsu Berahi Part4

Jam pelajaran kedua selesai. Pelajaran selanjutnya olahraga, kebetulan tidak ada guru. Adik kelas juga tidak ada guru tadi, katanya Pak Sulai sedang sakit. Biasanya jika tidak ada guru begini kami lebih bebas untuk bermain apapun yang kami mau. Teriakan teman-teman di kelas begitu riuh ketika tahu bahwa Pak Sulai sedang sakit. Sebagian siswa mulai mengganti pakaian mereka, sebagian para siswi tampak enggan untuk mengganti pakainnya, mereka memilih meghabiskan waktu di kantin. 

Aku, Nirman, Hino ikut bermain bola dengan beberapa teman. Sebenarnya aku juga malas ikut main namun Hino memaksaku ikut karena mereka kurang satu orang. Mau tidak mau aku juga ikut turun ke lapangan tanpa mengganti baju pramukaku. Lagian, ini juga jam terakhir dan besok juga hari minggu. Kami begitu bersemangat main di tengah terik matahari. Lumpur mulai mengotori celana dan bajuku tak begitu aku perdulikan. Dasiku ikut kotor, kuletakkan di dekat kelas Hanifa yang kebetulan kelasnya berdekatan dan menghadap lapangan. Hanifa memerhatikan di depan kelasnya, mungkin kelasnya juga tidak ada guru, sebab sudah lama sekali dia memerhatikan kami di lapangan. Aku tersenyum padanya ia membalas dengan manis. Sampai selesai ia masih memerhatikan. Bel pulang berbunyi, ia mendekatiku dan mengambil dasiku ketika aku hendak mengambilnya. “Kucucikan jak i? Ari sanen kubawak,” menawari untuk menyuci dasiku dan hari senin akan ia bawa.

Aku tersenyum dan mengangguk “Sip,” lalu kembali ke kelas mengambil tas dan pulang bersama Nirman.

Baca Juga: Part Pertama Cerita Fiksi Remaja

Bersambung...

***


Posting Komentar

0 Komentar