Cerita Fiksi Roman Pendek (3)

sumber pict: www.youtube.com

Pria Bermata Sipit

“Wen, pinjam HP dong,” ujar Kiran.

Weni terlihat masih begitu sibuk dengan HP-nya. Ibu jari kanannya menari lincah di layar. Sedangkan jantung Kiran semakin lincah pula berdetak mendebar-debarkan pikirannya. Kiran menatap lamat Weni. Entahlah, apa yang dicemaskan Kiran, padahal Weni dan Novela sudah menerima penjelasannya dengan leluasa. Tak sedetikpun Kiran melepaskan pandangannya. Weni tidak merespon permintaan Kiran, fokus tatapan Weni hanya ke layar.

“Wen, Weni,” Kiran semakin agresif. 

Weni mengalihkan pandangan menoleh Kiran “Iya, Ki.”

“Pinjam HP,” sambil menjulurkan tangan kanannya.

“Bentar-bentar.”

 Kiran bangkit dari pembaringan. “Sini, Wen, pinjam bentar!”

“Iya, Ki bentar.”

“Lagi cari apa sih, Wen?” tanya Kiran halus namun jantungnya terus mendegup kasar.

“Lagi cari kontak Rega, Ki.”

Kiran terperanjat, jantungnya semakin berdebar kuat. Kiran grasak-grusuk di tempatnya. Sementara Novela terlihat nyaman meringkuk di kursi panjang sebelah kanan Kiran. Matanya sudah begitu lelah untuk terbuka. Baca Juga: Cerita Fiksi Roman Pendek Chapter 2

Emangnya mau ngapa nyari kontak Rega, Wen?”

“Mau ngasih tahu Rega dong, Ki. Rega harus tahu keadaanmu sekarang.”

“Jangan, Wen, lagian ini sudah jam berapa, aku tak mau dia mencemaskanku. Dia akan sangat cemas jika tahu aku di rumah sakit begini. Aku takut nanti dia nekat datang ke sini. Apa kau tak tahu dengan Rega?” tegas Kiran.

Weni menghentikan ibu jarinya, mengunci HP, lalu menaruhnya di dalam saku celana kanannya. “Iya, iya, Ki.”

Kiran menghela napas sejenak. Kembali ia lemaskan tubuhnya di kasur. Weni mulai mengibas-ngibaskan kain ke lantai, sepertinya dia akan membujurkan badannya di sana. Kiran memberikan bantalnya pada Weni. Novela sudah begitu lelap, Kiran tersenyum pada Novela. Kiran begitu beruntung mempunyai dua sahabat sehebat itu.

Weni membujurkan tubuhnya di bawah “Wuuaahhh, tidur, Ki,” Weni menguap.

“Iya, Wen.”

“Wen, Weni,” Kiran menoleh Weni yang sudah terpejam dalam “Makasih, Wen,” kata Kiran pelan sambil tersenyum haru pada Weni lalu turut memejamkan matanya.

***

Dermaga rasa

Udara pagi masih begitu dingin, menusuk hingga ke tulang, membangkitkan bulu-bulu halus yang terlihat lembab di tangan pekerja jasa sebrang sungai. Mentari masih mengintip di kejauhan, perlahan sinarnya terpantul dari air yang jernih. Banyak orang berlalu lalang menyeberang. Para pekerja dengan tangkas menaik-turunkan motor di perahu.

Seorang bapak berbaju PNS dengan cepat mengeluarkan dompet, menarik uang sepuluh ribuan dan menyodorkan kepada bapak yang berbaju partai warna merah kusam, bercelana jeans pendek yang terlihat sobek di bagian belakangnya. Sendal jepit yang ia kenakan sudah dimakan jalan. “Terima kasih, Pak,” katanya lalu bergegas menghampiri satu motor lagi di perahunya. Sementara sepuluh anak berbaju sekolah menengah masing-masing membayar dua ribuan, termasuk Kiran. Puluhan siswa lainnya menggunakan perahu lain.

Ada banyak perahu hilir-mudik dengan bawaannya. Sementara belasan perahu juga terparkir berjejer, talinya saling mengikat antara perahu satu dengan yang lainnya. Mungkin bukan giliran mereka jalan sehingga pengemudinya membiarkan perahunya berdiam diri. Atau memang banyak yang belum datang sepagi ini? Atau entahlah.

Mata Kiran liar mencari seseorang di antara padatnya dermaga. Orang-orang saling bersenggolan, ada yang turun dari perahu ada yang menaiki. Motor terparkir panjang menunggu antrean perahu.

“Ayo, ayo, ayo,” teriak seorang pekerja sambil melambai-lambaikan tangannya memberitahu bahwa perahunya masih kosong.

Di dermaga keadaan begitu pagi ini. Namun keadaan seperti ini yang paling dicari-cari oleh pekerja. Pagi senin merupakan pagi terkalut di dermaga ini karena banyaknya Pegawai Negeri yang mau masuk pagi ke kantor. Mungkin Pegawai Negeri tersebut takut telat upacara sehingga setiap senin mereka berbondong-bondong berangkat pagi, sementara pada hari lain tak pernah datang sepagi ini.

“Cepat, cepat! Cepat, Pak. Sini, Pak,” teriak seorang pekerja. 

“Sini, Pak,” sambil mendekat dan menyeret motor bapak berbaju PNS ke perahunya lalu menyuruh bapak tersebut menaiki motornya ketika sudah di atas perahu. 

“Satu lagi, satu lagi,” ia kembali berteriak, suaranya begitu lantang sesuai dengan badannya yang kekar, terlihat dari gerak tubuh yang tegap berjalan. “Pak, sini, Pak, langsung berangkat, Pak,” ujarnya lalu menaikan motor bapak yang juga berbaju Pegawai Negeri dan memerintahkan bapak tersebut menaiki motornya. 

“Berangkat,” ia tarik starter, dengan mudah mesinnya yang bermerek Mercury menderu lalu segera meninggalkan dermaga.

Kiran masih mencari-cari. Sudah 15 menit dia menunggu namun belum juga dilihatnya seseorang yang setiap hari ia tunggu. Teman-teman sekolahnya sudah berjalan jauh meninggalkan hiruk-pikuk dermaga, namun Kiran masih betah di sana. Memang sudah setiap hari Kiran lakukan hal seperti ini. Jika belum juga dilihatnya seseorang yang ia tunggu, belum juga ia meninggalkan dermaga. Seorang siswa bermata sipit baru saja datang dari seberang. Kiran mendapatinya di sana namun tak mendekat, hanya menatap dari kejauhan saja. Kiran tersenyum sendiri.

Siswa bermata sipit segera meninggalkan dermaga, bergegas menuju sekolah. Sekolahnya cukup jauh, kira-kira 15 menit dari dermaga jika berjalan kaki. Kiran pun ikut berjalan meninggalkan dermaga, ia berjalan di belakang siswa itu. Siswa bermata sipit melihat jam tangannya sudah pukul 06:45 lalu ia mempercepat langkah hingga membuat Kiran tertinggal. Kiran juga berusaha mempercepat langkah tapi tenaganya tidak sekuat siswa bermata sipit itu. Beberapa kali Kiran harus kembali memperlambat langkah kakinya. Siswa itu sudah begitu jauh meninggalkan Kiran.

***

“Ikbal Gilang Prasetya,” Pak Ali mengabsen siswa.

Pak Ali adalah Kepala Sekolah di SMP Negeri 1 Teluk Kampung. Pak Ali juga dikenal sebagai guru yang sangat tegas. Wajar jika dia selalu ditakuti oleh siswa-siswa, bahkan juga oleh guru-guru yang suka telat datang, malas masuk, dan guru yang suka korupsi waktu.

“Saya, Pak,” siswa yang duduk di depan mengangkat tangan.

“Ikbal Gilang Prasetya,” ucap Kiran mengulang nama yang disebutkan Pak Ali dan menghentikan langkahnya di depan kelas Ikbal sambil melihat Ikbal mengangkat tangan. Akhirnya, Kiran tahu nama siswa bermata sipit yang setiap hari ia tunggu di dermaga. Tak banyak yang Kiran inginkan saat menunggu, hanya ingin melihat pria bermata sipit itu. Pria itu begitu tampan di mata Kiran hingga ia rela menunggu hanya untuk melihat. Hanya melihat. Kiran sudah jatuh hati padanya sebelum tahu nama dan asal usulnya.

Heeh, kamu kelas mana?” Pak Ali menegur Kiran yang berdiri di depan pintu.

“Sembilan B, Pak, hee,” Kiran langsung bergegas meneruskan langkahnya menuju kelas. 

“Ikbal Gilang Prasetya, Ikbal Gilang Prasetya,” Kiran terus-menerus mengulang nama pria itu. Akhirnya ia mengeluarkan pena dan buku dari tasnya lalu menuliskan nama Ikbal Gilang Prasetya di balik cover bukunya.

Woy, nulis apaan?” Weni menepuk bahu Kiran lalu meletakan tasnya di atas meja.

Kelas mereka kosong saat itu. Bu Erna masih sakit sejak hari sabtu. Tak ada guru yang masuk menggantikan. Mereka disuruh mengerjakan latihan di buku lembar kerja siswa, lalu dikumpulkan setelah jam pelajaran habis. 

“Nulis nama calon imamku,” Kiran membalas datar.

Mata Weni terbelalak “Coba lihat,” menarik buku Kiran “Ikbal Gilang Prasetya,” baca Weni nyaring hingga membuat mata para siswa tertuju ke arah mereka.

Kiran menyambar buku di tangan Weni lalu memasukkannya ke dalam tas. Kiran mencemberutkan sedikit mukanya.

Ciee, jatuh cinta ni ye,” Weni mendorong bahu Kiran. “Cerita dong, Ki. Siapa orangnya? sekolah di mana? kelas berapa? pasti ganteng, ya?” Weni begitu bersemangat hingga untuk kedua kalinya mata-mata tertuju pada mereka. Weni menutup mulutnya dengan kedua tangan lalu menempelkan pipi kananya ke tas di atas meja.

Woy, bisa diam tidak,” Guntur menggelegar keras. Guntur adalah ketua kelas Sembilan B. Tubuhnya gempal berwarna hitam, rambutnya sedikit panjang namun menggulung-gulung. Ia dikenal garang dan tak segan membentak siapa saja yang kurang ajar di kelasnya.

Kiran tersenyum tipis “Sukurin.”

Weni terdiam dan mengeluarkan buku LKS dari tasnya, menghamparkannya di atas meja. Tak lupa pena berwarna merah jambu kesukaannya juga ikut terlantar di atas meja.

“Kerjakan tuh halaman empat puluh, minggu depan kita udah TO pertama!” Kiran mengingatkan.

“Iya, Tuan Putri.”

Kiran menggeleng ditambah senyum manis merekah di wajahnya.

“Vel. Vel. Vela,” Weni memanggil Novela di depannya dengan suara samar.

Novela memutar pinggang dan wajahnya ke arah bangku belakang “Apa?” tanya Novela sedikit keras.

“Udah selesai belum?”

“Belum.”

“Coba lihat dong.”

“Masih banyak yang belum, Wen. Nanti kalau udah selesai kukabari.”

Sip, oke.”

Kiran menoleh Weni “Coba kerjakan sendiri dulu, Wen!”

“Iya, Tuan Putri,” Weni membuka buku LKS-nya, mengais-ngais lembaran kertas mencari halaman empat puluh. Baca Juga: Jelajah Gunung Bawang

***

            Seratus lebih orangtua siswa bergembira di dalam satu ruangan ketika Pak Ali mengumumkan kelulusan. Sama seperti beberapa tahun sebelumnya, kali ini siswa kelas sembilan lulus seratus persen. 

    “Tahun ini kita lulus seratus persen,” kata Pak Ali dan langsung disambut tepuk tangan yang gemuruh oleh semua orang di dalam ruangan. “Alhamdulillah,” sambung Pak Ali juga diikuti orangtua siswa 

    Alhamdulillah,” beberapa bapak-bapak saling berjabat tangan. Ibu-ibu saling berpelukan satu sama lain. Suasana begitu hangat kala itu.

    Sementara di luar ruangan, siswa-siswi menjerit. “Yeaah, lulus,” teriak Guntur. 

    Weni berlari menghampiri Kiran dan Novela di depan ruang guru “Yeeee, lulus semua,” teriak Weni sambil membentangkan tangannya memeluk Kiran dan Novela. Kiran dan Novela melompat-lompat berputar di depan ruang guru sambil berpelukan dengan Weni.

    Tak lama kemudian terdengar pengeras suara melenting. “Diharapkan seluruh siswa-siswi berkumpul di halaman,” kata Pak Edi selaku Wakil Kepala Sekolah menggunakan penggeras suara. Tak memerlukan waktu lama untuk membuat halaman berwarna putih biru.

            “Ayo, cepat ke halaman!” Kiran menggandeng kedua sahabatnya menuju halaman.

Kiran dan kedua sahabatnya bergabung dengan seratus lebih siswa-siswi di halaman. Mata Kiran kembali liar menyelinap ke celah-celah keramaian seperti yang sering dilakukannya setiap pagi di dermaga. Ya, matanya masih belum menemukan Ikbal di sana. Kiran berhimpit-himpitan di antara seratus lebih siswa-siswi namun belum juga ia temukan sosok pria bermata sipit.

            “Semuanya harap tenang,” perintah Pak Edi mengunakan pengeras suara karena suasana begitu riuh.

          Seluruh siswa menaati ucapan Pak Edi. Semua siswa-siswi serentak terdiam walaupun tidak dalam barisan yang rapi dan tak lagi berbaris per kelas seperti upacara senin biasanya. Seluruh guru berbaris rapi di kiri dan kanan Pak Edi. Terlihat ada lima kado sebesar buku paket yang sudah dibungkus rapi tergeletak di atas meja depan Pak Edi. Setelah beberapa patah kata berbicara akhirnya Pak Edi memberitahukan hadiah akan diberikan kepada lima orang yang mendapat nilai tertinggi. Seluruh siswa menyambut dengan suka cita disertai tepuk tangan.

            “Baiklah, langsung saja bapak panggil kelima orang yang mendapat nilai tertinggi tahun ini,” Pak Edi membuat semua siswa-siswi kembali terdiam.

            Kiran tak menghiraukan Pak Edi, matanya masih saja mencari-cari Ikbal.

         Pak Edi membuka selembaran kertas daftar peraih lima nilai tertinggi. “Peringkat kelima nilai tertinggi jatuh kepada...” Pak Edi menghentikan sebentar suaranya, membuat seisi halaman hening.

        Pak Edi melihat lagi nama yang tertulis nomor lima di selembaran kertas di tangannya. “Nur Hikmah,” serentak tepuk tangan para siswa dan guru bergemuruh.

Nur Hikmah berjalan ke depan dengan wajah tertunduk, bersalaman dengan Pak Edi dan seluruh guru, lalu ia berdiri di depan, dekat kado hadiah yang tersusun.

            “Baiklah langsung saja bapak umumkan juara yang ke empat," kembali hening. 

        "Untuk juara empat nilai tertinggi tahun ini jatuh kepada, Hanum Dwi Utami,” tepuk tangan kembali bergelepak di halaman.

            Kiran masih sibuk dengan aktifitasnya. Matanya begitu liar namun belum juga ia dapati wajah si pria mata sipit.

         “Yang ketiga jatuh kepada Ikbal Gilang Prasetya,” Kiran terperanjat, matanya semakin liar diikuti langkah kakinya yang tiba-tiba menerobos ke depan kerumunan para siswa. Kiran grasak-grusuk menoleh ke kiri, kanan dan ke depan, namun tak ada gerak-gerak orang yang disebut untuk maju ke depan.

           Pak Edi mengulangi sekali lagi nama yang tadi disebutkannya “Ikbal Gilang Prasetya,” ujar Pak Edi sambil mencari-cari Ikbal.

            “Mana Ikbal?” tanya Pak Edi melalui pengeras suara.

            “Tidak tahu, Pak,” teriak beberapa siswa teman sekelas Ikbal.

          “Baiklah nanti diwakilkan saja kepada Bu Rina, kebetulan rumah Bu Rina dekat dengan rumah Ikbal. Iya kan, Bu?” sambil menoleh Bu Rina ke sebelah kiri. Bu Rina mengangguk.

            Kiran terpaku, hatinya bertanya-tanya kemana Ikbal. Kenapa dihari kelulusan dia tidak masuk. Padahal Ikbal selalu masuk sekolah dan disiplin. Kemana dia? Mungkinkah aku tak akan lagi melihatnya? Padahal hari ini aku sudah mempersiapkan diri untuk berkenalan dengannya, kemana dia? pikir Kiran. Kepala dan hatinya terus berdialog soal Ikbal.

            “Yang kedua jatuh kepada Khiran Kirana,” seluruh siswa dan guru kembali bertepuk tangan.

            “Khiran Kirana,” Pak Edi mengulangi.

“Khiran Kirana,” panggilan ketiga dari Pak Edi mengejutkan Kiran.

Kiran menoleh ke kiri dan kanannya, ia terlihat binggung. “Kiki, maju, Ki,” teriak Weni dari belakang. Dengan langkah cepat Kiran maju ke depan. Kiran berbaris bersama dua siswi yang sudah berdiri sejak tadi di dekat barisan hadiah.

Andai saja dia masuk hari ini, dia akan berdiri di sampingku saat ini, pikir Kiran masih mempertanyakan tentang Ikbal.

“Baik, untuk juara pertama dengan nilai tertinggi tahun ini jatuh kepada...” Pak Edi cukup lama menghentikan hingga membuat seluruh siswa begitu penasaran. Ada tiga atau empat siswa berteriak nama Guntur, Guntur, berkali-kali dari belakang. Ya, itu teman sekelas Guntur yang juga satu kelas dengan Kiran. Seluruh siswa semakin penasaran dan bertanya-tanya hingga membuat suasana ribut di halaman.

Ehmm," deheman Pak Edi membuat seluruh siswa terdiam.

"Juara pertama jatuh kepada Rega Ramandika,” semua siswa masih terdiam, termasuk Kiran, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengar..

Seorang lelaki berteriak dari belakang. “Minggir-minggir sang juara mau lewat,” katanya dengan rambut yang acak-acakan. Kancing bajunya yang terbuka separuh memperlihatkan dadanya.

Suasana masih hening ketika Rega berjalan ke depan. Hanya ada beberapa guru yang bertepuk tangan termasuk Pak Edi. 

“Baju rapikan,” perintah Pak Edi pada Rega sebelum bersalaman. Rega segera merapikan bajunya lalu bersalaman dengan Pak Edi dan seluruh guru. Rega mengangkat kedua tangannya sambil bertepuk sendiri, tak lama tepukan tangannya sendiri disusul tepuk tangan Kiran dan guru. Akhirnya seluruh siswa ikut bertepuk tangan. Sesekali terdengar siswa berteriak menyebut namanya.

"Rega. Rega. Rega."

Tak ada yang menyangka seorang siswa dengan penampilan amburadul dapat nilai tertinggi. Saat itu pula Kiran mengenal sosok Rega dengan jelas. Rega adalah siswa pindahan dari sekolah lain, karena kenakalan yang dibuatnya ketika berada di sekolah yang lama membuat ia terpaksa pindah ke sekolah ini. Sebenarnya sejak Rega masuk di sekolah ini Kiran sudah mendengar dari teman-temannya bahwa ada siswa baru, siswa yang tak mengerti aturan, selalu telat dan pemalas. Entah, benar atau tidak informasi tersebut Kiran tak memperdulikan hal itu, tak ingin banyak tahu tentangnya.

Kata-kata orang bijak tak selalu benar, pernah didengar Kiran salah seorang bijak berkata bahwa pola pikir seseorang dapat dilihat dari penampilannya. Jika berpenampilan rapi, orang tersebut memiliki pola pikir yang baik dan positif. Begitu juga sebaliknya, jika orang berpenampilan amburadul maka amburadul pula pola pikirnya. Ia lupa siapa orang yang mengatakan hal itu. Namun, kali ini kalimat tersebut dipatahkan oleh seorang Rega Ramandika, seorang siswa amburadul yang tak mengenal aturan sama sekali pikir Kiran dalam tepuk tangan dan teriakan siswa-siswi yang semakin riuh.

Keempat siswa masih berdiri di depan sana, termasuk Kiran. Pak Edi kembali melantangkan suaranya “Sekali lagi berikan tepuk tangan kepada para juara tahun ini,” kata Pak Edi disambut gemuruh semua siswa.

Sementara, di dalam ruangan, orangtua siswa masih mendengarkan Pak Ali berbicara. “Untuk itu kita akan mengadakan doa bersama di halaman.”

Orangtua siswa mulai menyiapkan diri. “Silakan Bapak Ibu kita sama-sama ke halaman,” Pak Ali langsung berjalan keluar ruangan bersama para orangtua.

Kiran masih berdiri tegap di depan bersama ketiga siswa, Pak Edi dan guru-guru. Orangtua siswa mulai membanjiri halaman, berbaur dengan siswa-siswa. Terlihat di sana para orangtua siswa saling mencari anaknya masing-masing. Bu Irma linglung di antara ratusan orang. Kepalanya berpurat-putar mencari keberadaan anaknya. Sementara orangtua siswa yang lain sudah saling menemukan.

Kiran memanggil ibunya yang tampak bingung di bawah “Bu. Bu. Ibu.”

Bu Irma menoleh ke arah Kiran dan langsung menghampirinya. Sebuah pelukan hangat mendekap tubuh Kiran. Setelah itu Bu Irma memutuskan untuk turun. Sebelum turun Bu Irma melempar senyum kepada Rega. Rega membalas senyum Bu Irma sambil mendekat dan mencium tangan Bu Irma untuk bersalaman.

Kiran menoleh Rega lalu bertanya “Orangtuamu mana?”

Rega merapikan rambutnya dengan lima jari kanannya “Tidak datang,” tanpa menoleh Kiran.

“Memangnya mereka kemana? Sibuk?”

“Aku tak pernah memberitahu mereka jika hanya urusan beginian. Undangan yang diberikan guru kemarin masih ada di tong sampah depan kelas. Mereka terlalu sibuk untuk ikut campur urusanku.”

Kiran terhenyak. Pembicaraan mereka terputus oleh suara Pak Ali yang berdiri di depan menggunakan pengeras suara.

“Baiklah, bapak ibu yang saya hormati serta siswa-siswi yang saya sayangi. Alhamdulillah tak henti-hentinya kita ucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat-Nya kita semua bisa berbahagia pada hari ini. Sebelum kita pulang ke rumah masing-masing baiknya kita berdoa bersama untuk mengucap syukur. Agar apa yang kita dapat hari ini selalu direstui oleh Allah subhanahu wa ta’laa. Untuk memimpin doa saya serahkan kepada Pak Ahmad selaku guru Agama di sekolah ini. Silakan, Pak,” Pak Ali memberikan pengeras suara kepada Pak Ahmad.

Pak Ahmad memimpin doa dengan khidmat hingga membuat beberapa siswa menangis sambil memeluk orangtuanya. Begitupun orangtua siswa yang terhanyut dalam suasana yang mengharukan itu tak segan menumpahkan airmata mereka.

Mata Kiran berkaca-kaca, ia turun memeluk ibunya. Belum berlabuh di tubuh Bu Irma airmata Kiran sudah berjatuhan kemana-mana. Suasana semakin haru ketika Pak Ahmad turut meneteskan airmata dengan suara serak tersendat-sendat. Airmata Kiran semakin deras membasahi jilbab ibunya. Pelukan begitu erat Bu Irma berikan pada Kiran juga dibalas pelukan erat Kiran.

Sementara di atas sana Rega hanya memandang orang-orang berpelukan. Tak ada sedih sedikit pun yang dirasakan oleh Rega. Mungkin karena dia sudah terbiasa dengan kehidupan keras di pasar hingga hatinya sudah cukup kuat mengalahkan rasa sedih. Saat itu, ia hanya memikirkan kemana dia setelah ini. Apakah akan melanjutkan sekolah atau memilih bekerja angkut barang di pasar. Ah Sudahlah, biar lain waktu memikirkan hal. itu pikir membantah pikirannya sendiri.

Baca Juga: Andai Saja Nama Agamanya Santuy


***

Posting Komentar

0 Komentar