| sumber pict: www.youtube.com |
Pria Bermata Sipit
“Wen, pinjam HP dong,” ujar Kiran.
Weni terlihat masih begitu sibuk dengan HP-nya. Ibu
jari kanannya menari lincah di layar. Sedangkan jantung Kiran semakin lincah
pula berdetak mendebar-debarkan pikirannya. Kiran menatap lamat Weni. Entahlah,
apa yang dicemaskan Kiran, padahal Weni dan Novela sudah menerima penjelasannya
dengan leluasa. Tak sedetikpun Kiran melepaskan pandangannya. Weni tidak
merespon permintaan Kiran, fokus tatapan Weni hanya ke layar.
“Wen, Weni,” Kiran semakin agresif.
Weni mengalihkan pandangan menoleh Kiran “Iya, Ki.”
“Pinjam HP,” sambil menjulurkan tangan kanannya.
“Bentar-bentar.”
Kiran bangkit dari pembaringan. “Sini, Wen, pinjam bentar!”
“Iya, Ki bentar.”
“Lagi cari apa sih, Wen?” tanya Kiran halus namun
jantungnya terus mendegup kasar.
“Lagi cari kontak Rega, Ki.”
Kiran terperanjat, jantungnya semakin berdebar kuat.
Kiran grasak-grusuk di tempatnya. Sementara Novela terlihat nyaman meringkuk di
kursi panjang sebelah kanan Kiran. Matanya sudah begitu lelah untuk terbuka. Baca Juga: Cerita Fiksi Roman Pendek Chapter 2
“Emangnya mau ngapa nyari kontak Rega,
Wen?”
“Mau ngasih tahu Rega dong, Ki. Rega harus tahu
keadaanmu sekarang.”
“Jangan, Wen, lagian ini sudah jam berapa,
aku tak mau dia mencemaskanku. Dia akan sangat cemas jika tahu aku di rumah
sakit begini. Aku takut nanti dia nekat datang ke sini. Apa kau tak tahu dengan
Rega?” tegas Kiran.
Weni menghentikan ibu jarinya, mengunci HP, lalu
menaruhnya di dalam saku celana kanannya. “Iya, iya, Ki.”
Kiran menghela napas sejenak. Kembali ia lemaskan
tubuhnya di kasur. Weni mulai mengibas-ngibaskan kain ke lantai, sepertinya dia
akan membujurkan badannya di sana. Kiran memberikan bantalnya pada Weni. Novela sudah begitu lelap, Kiran tersenyum pada Novela. Kiran begitu
beruntung mempunyai dua sahabat sehebat itu.
Weni membujurkan tubuhnya di bawah “Wuuaahhh,
tidur, Ki,” Weni menguap.
“Iya, Wen.”
“Wen, Weni,” Kiran menoleh Weni yang sudah terpejam dalam “Makasih,
Wen,” kata Kiran pelan sambil tersenyum haru pada Weni lalu turut memejamkan matanya.
***
Dermaga rasa
Udara pagi masih begitu dingin, menusuk hingga ke
tulang, membangkitkan bulu-bulu halus yang terlihat lembab di
tangan pekerja jasa sebrang sungai. Mentari masih mengintip di kejauhan,
perlahan sinarnya terpantul dari air yang jernih. Banyak orang berlalu lalang
menyeberang. Para pekerja dengan tangkas menaik-turunkan motor di perahu.
Seorang bapak berbaju PNS dengan cepat mengeluarkan
dompet, menarik uang sepuluh ribuan dan menyodorkan kepada bapak yang berbaju
partai warna merah kusam, bercelana jeans pendek yang terlihat sobek di bagian
belakangnya. Sendal jepit yang ia kenakan sudah dimakan jalan. “Terima kasih, Pak,” katanya lalu bergegas
menghampiri satu motor lagi di perahunya. Sementara sepuluh anak berbaju
sekolah menengah masing-masing membayar dua ribuan, termasuk Kiran. Puluhan
siswa lainnya menggunakan perahu lain.
Ada banyak perahu hilir-mudik dengan bawaannya.
Sementara belasan perahu juga terparkir berjejer, talinya saling mengikat
antara perahu satu dengan yang lainnya. Mungkin bukan giliran mereka jalan
sehingga pengemudinya membiarkan perahunya berdiam diri. Atau memang banyak
yang belum datang sepagi ini? Atau entahlah.
Mata Kiran liar mencari seseorang di antara padatnya
dermaga. Orang-orang saling bersenggolan, ada yang turun dari perahu ada yang
menaiki. Motor terparkir panjang menunggu antrean perahu.
“Ayo, ayo, ayo,” teriak seorang pekerja sambil
melambai-lambaikan tangannya memberitahu bahwa perahunya masih kosong.
Di dermaga keadaan begitu pagi ini. Namun
keadaan seperti ini yang paling dicari-cari oleh pekerja. Pagi senin merupakan
pagi terkalut di dermaga ini karena banyaknya Pegawai Negeri yang mau masuk
pagi ke kantor. Mungkin Pegawai Negeri tersebut takut telat upacara sehingga
setiap senin mereka berbondong-bondong berangkat pagi, sementara pada hari lain
tak pernah datang sepagi ini.
“Cepat, cepat! Cepat, Pak. Sini, Pak,” teriak seorang pekerja.
“Sini, Pak,” sambil mendekat dan menyeret motor bapak berbaju PNS ke perahunya lalu menyuruh bapak tersebut menaiki motornya ketika sudah di atas perahu.
“Satu lagi, satu lagi,” ia kembali berteriak, suaranya begitu lantang sesuai dengan badannya yang kekar, terlihat dari gerak tubuh yang tegap berjalan. “Pak, sini, Pak, langsung berangkat, Pak,” ujarnya lalu menaikan motor bapak yang juga berbaju Pegawai Negeri dan memerintahkan bapak tersebut menaiki motornya.
“Berangkat,” ia tarik starter, dengan mudah mesinnya yang bermerek Mercury menderu lalu
segera meninggalkan dermaga.
Kiran masih mencari-cari. Sudah 15 menit dia menunggu
namun belum juga dilihatnya seseorang yang setiap hari ia tunggu. Teman-teman
sekolahnya sudah berjalan jauh meninggalkan hiruk-pikuk dermaga, namun Kiran
masih betah di sana. Memang sudah setiap hari Kiran lakukan hal seperti ini.
Jika belum juga dilihatnya seseorang yang ia tunggu, belum juga ia meninggalkan
dermaga. Seorang siswa bermata sipit baru saja datang dari seberang. Kiran
mendapatinya di sana namun tak mendekat, hanya menatap dari kejauhan saja. Kiran
tersenyum sendiri.
Siswa bermata sipit segera meninggalkan dermaga, bergegas menuju sekolah. Sekolahnya cukup jauh, kira-kira 15 menit dari dermaga
jika berjalan kaki. Kiran pun ikut berjalan meninggalkan dermaga, ia
berjalan di belakang siswa itu. Siswa bermata sipit melihat jam tangannya sudah
pukul 06:45 lalu ia mempercepat langkah hingga membuat Kiran tertinggal. Kiran
juga berusaha mempercepat langkah tapi tenaganya tidak sekuat siswa
bermata sipit itu. Beberapa kali Kiran harus kembali memperlambat langkah kakinya. Siswa itu sudah begitu jauh meninggalkan Kiran.
***
“Ikbal Gilang Prasetya,” Pak Ali mengabsen siswa.
Pak Ali adalah Kepala Sekolah di SMP Negeri 1 Teluk
Kampung. Pak Ali juga dikenal sebagai guru yang sangat tegas. Wajar jika dia
selalu ditakuti oleh siswa-siswa, bahkan juga oleh guru-guru yang suka telat
datang, malas masuk, dan guru yang suka korupsi waktu.
“Saya, Pak,” siswa yang duduk di depan mengangkat
tangan.
“Ikbal Gilang Prasetya,” ucap Kiran mengulang nama
yang disebutkan Pak Ali dan menghentikan langkahnya di depan kelas Ikbal sambil
melihat Ikbal mengangkat tangan. Akhirnya, Kiran tahu nama siswa bermata sipit
yang setiap hari ia tunggu di dermaga. Tak banyak yang Kiran inginkan saat
menunggu, hanya ingin melihat pria bermata sipit itu. Pria itu begitu tampan di mata Kiran hingga ia rela menunggu hanya untuk melihat. Hanya melihat. Kiran
sudah jatuh hati padanya sebelum tahu nama dan asal usulnya.
“Heeh, kamu kelas mana?” Pak Ali menegur Kiran yang berdiri di depan pintu.
“Sembilan B, Pak, hee,” Kiran langsung bergegas meneruskan
langkahnya menuju kelas.
“Ikbal Gilang Prasetya, Ikbal Gilang Prasetya,” Kiran
terus-menerus mengulang nama pria itu. Akhirnya ia mengeluarkan pena dan buku
dari tasnya lalu menuliskan nama Ikbal Gilang Prasetya di balik cover bukunya.
“Woy, nulis apaan?” Weni menepuk bahu Kiran
lalu meletakan tasnya di atas meja.
Kelas mereka kosong saat itu. Bu Erna masih sakit
sejak hari sabtu. Tak ada guru yang masuk menggantikan. Mereka disuruh mengerjakan latihan di
buku lembar kerja siswa, lalu dikumpulkan setelah jam pelajaran habis.
“Nulis nama calon imamku,” Kiran membalas datar.
Mata Weni terbelalak “Coba lihat,” menarik buku Kiran
“Ikbal Gilang Prasetya,” baca Weni nyaring hingga membuat mata para siswa
tertuju ke arah mereka.
Kiran menyambar buku di tangan Weni lalu memasukkannya
ke dalam tas. Kiran mencemberutkan sedikit mukanya.
“Ciee, jatuh cinta ni ye,” Weni
mendorong bahu Kiran. “Cerita dong, Ki. Siapa orangnya? sekolah di mana? kelas
berapa? pasti ganteng, ya?” Weni begitu bersemangat hingga untuk kedua kalinya mata-mata tertuju pada mereka. Weni menutup mulutnya dengan kedua tangan lalu menempelkan pipi kananya ke tas di atas meja.
“Woy, bisa diam tidak,” Guntur menggelegar
keras. Guntur adalah ketua kelas Sembilan B. Tubuhnya gempal berwarna hitam,
rambutnya sedikit panjang namun menggulung-gulung. Ia dikenal garang dan tak
segan membentak siapa saja yang kurang ajar di kelasnya.
Kiran tersenyum tipis “Sukurin.”
Weni terdiam dan mengeluarkan buku LKS dari tasnya,
menghamparkannya di atas meja. Tak lupa pena berwarna merah jambu kesukaannya juga
ikut terlantar di atas meja.
“Kerjakan tuh halaman empat puluh, minggu depan kita udah TO
pertama!” Kiran mengingatkan.
“Iya, Tuan Putri.”
Kiran menggeleng ditambah senyum manis merekah di
wajahnya.
“Vel. Vel. Vela,” Weni memanggil Novela di depannya
dengan suara samar.
Novela memutar pinggang dan wajahnya ke arah bangku
belakang “Apa?” tanya Novela sedikit keras.
“Udah selesai belum?”
“Belum.”
“Coba lihat dong.”
“Masih banyak yang belum, Wen. Nanti kalau udah
selesai kukabari.”
“Sip, oke.”
Kiran menoleh Weni “Coba kerjakan sendiri dulu, Wen!”
“Iya, Tuan Putri,” Weni membuka buku LKS-nya, mengais-ngais lembaran kertas mencari halaman empat puluh. Baca Juga: Jelajah Gunung Bawang
***
Seratus lebih orangtua siswa bergembira di dalam satu ruangan ketika Pak Ali mengumumkan kelulusan. Sama seperti beberapa tahun sebelumnya, kali ini siswa kelas sembilan lulus seratus persen.
“Tahun ini kita lulus seratus persen,” kata Pak Ali dan langsung disambut tepuk tangan yang gemuruh oleh semua orang di dalam ruangan. “Alhamdulillah,” sambung Pak Ali juga diikuti orangtua siswa
“Alhamdulillah,” beberapa bapak-bapak saling berjabat tangan. Ibu-ibu saling berpelukan satu sama lain. Suasana begitu hangat kala itu.
Sementara di luar ruangan, siswa-siswi menjerit. “Yeaah, lulus,” teriak Guntur.
Weni berlari menghampiri Kiran dan Novela di depan ruang guru “Yeeee, lulus semua,” teriak Weni sambil membentangkan tangannya memeluk Kiran dan Novela. Kiran dan Novela melompat-lompat berputar di depan ruang guru sambil berpelukan dengan Weni.
Tak lama kemudian terdengar pengeras suara melenting. “Diharapkan seluruh siswa-siswi berkumpul di halaman,” kata Pak Edi selaku Wakil Kepala Sekolah menggunakan penggeras suara. Tak memerlukan waktu lama untuk membuat halaman berwarna putih biru.
“Ayo,
cepat ke halaman!” Kiran menggandeng kedua sahabatnya menuju halaman.
Kiran dan kedua sahabatnya bergabung dengan seratus
lebih siswa-siswi di halaman. Mata Kiran kembali liar menyelinap ke celah-celah
keramaian seperti yang sering dilakukannya setiap pagi di dermaga. Ya, matanya
masih belum menemukan Ikbal di sana. Kiran berhimpit-himpitan di antara seratus
lebih siswa-siswi namun belum juga ia temukan sosok pria bermata sipit.
“Semuanya
harap tenang,” perintah Pak Edi mengunakan pengeras suara karena suasana begitu riuh.
Seluruh
siswa menaati ucapan Pak Edi. Semua siswa-siswi serentak terdiam walaupun
tidak dalam barisan yang rapi dan tak lagi berbaris per kelas seperti upacara
senin biasanya. Seluruh guru berbaris rapi di kiri dan kanan Pak Edi. Terlihat
ada lima kado sebesar buku paket yang sudah dibungkus rapi tergeletak di atas
meja depan Pak Edi. Setelah beberapa
patah kata berbicara akhirnya Pak Edi memberitahukan hadiah akan diberikan
kepada lima orang yang mendapat nilai tertinggi. Seluruh siswa menyambut dengan
suka cita disertai tepuk tangan.
“Baiklah,
langsung saja bapak panggil kelima orang yang mendapat nilai tertinggi tahun
ini,” Pak Edi membuat semua siswa-siswi kembali terdiam.
Kiran
tak menghiraukan Pak Edi, matanya masih saja mencari-cari Ikbal.
Pak
Edi membuka selembaran kertas daftar peraih lima nilai tertinggi. “Peringkat
kelima nilai tertinggi jatuh kepada...” Pak Edi menghentikan sebentar suaranya, membuat seisi halaman hening.
Pak
Edi melihat lagi nama yang tertulis nomor lima di selembaran kertas di
tangannya. “Nur Hikmah,” serentak tepuk tangan para siswa
dan guru bergemuruh.
Nur Hikmah berjalan ke depan dengan wajah tertunduk,
bersalaman dengan Pak Edi dan seluruh guru, lalu ia berdiri di depan, dekat kado hadiah yang tersusun.
“Baiklah langsung saja bapak umumkan juara yang ke empat," kembali hening.
"Untuk juara empat nilai
tertinggi tahun ini jatuh kepada, Hanum Dwi Utami,” tepuk tangan kembali
bergelepak di halaman.
Kiran masih sibuk dengan aktifitasnya. Matanya begitu liar namun belum juga ia dapati wajah si pria mata sipit.
“Yang ketiga jatuh kepada Ikbal Gilang Prasetya,” Kiran terperanjat, matanya semakin liar diikuti langkah kakinya yang tiba-tiba menerobos ke depan kerumunan para siswa. Kiran grasak-grusuk menoleh ke kiri, kanan dan ke depan, namun tak ada gerak-gerak orang yang disebut untuk maju ke depan.
Pak Edi mengulangi sekali lagi nama yang tadi disebutkannya “Ikbal Gilang Prasetya,” ujar Pak Edi sambil mencari-cari Ikbal.
“Mana
Ikbal?” tanya Pak Edi melalui pengeras suara.
“Tidak
tahu, Pak,” teriak beberapa siswa teman sekelas Ikbal.
“Baiklah
nanti diwakilkan saja kepada Bu Rina, kebetulan rumah Bu Rina dekat dengan rumah
Ikbal. Iya kan, Bu?” sambil menoleh Bu Rina ke sebelah kiri. Bu Rina
mengangguk.
Kiran
terpaku, hatinya bertanya-tanya kemana Ikbal. Kenapa dihari kelulusan dia tidak
masuk. Padahal Ikbal selalu masuk sekolah dan disiplin. Kemana dia? Mungkinkah
aku tak akan lagi melihatnya? Padahal hari ini aku sudah mempersiapkan diri
untuk berkenalan dengannya, kemana dia? pikir Kiran. Kepala dan hatinya terus berdialog soal Ikbal.
“Yang
kedua jatuh kepada Khiran Kirana,” seluruh siswa dan guru kembali bertepuk
tangan.
“Khiran
Kirana,” Pak Edi mengulangi.
“Khiran Kirana,” panggilan ketiga dari Pak Edi
mengejutkan Kiran.
Kiran menoleh ke kiri dan kanannya, ia terlihat binggung. “Kiki, maju, Ki,” teriak Weni dari belakang. Dengan langkah cepat Kiran maju ke depan. Kiran berbaris bersama dua siswi yang sudah berdiri sejak tadi di dekat barisan hadiah.
Andai saja dia masuk hari ini, dia akan berdiri di
sampingku saat ini, pikir Kiran masih mempertanyakan tentang Ikbal.
“Baik, untuk juara pertama dengan nilai tertinggi tahun ini jatuh kepada...” Pak Edi cukup lama menghentikan hingga membuat seluruh siswa
begitu penasaran. Ada tiga atau empat siswa berteriak nama Guntur, Guntur,
berkali-kali dari belakang. Ya, itu teman sekelas Guntur yang juga satu kelas
dengan Kiran. Seluruh siswa semakin penasaran dan bertanya-tanya hingga membuat
suasana ribut di halaman.
“Ehmm," deheman Pak Edi membuat seluruh siswa terdiam.
"Juara pertama jatuh kepada Rega Ramandika,” semua siswa masih terdiam, termasuk Kiran, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengar..
Seorang lelaki berteriak dari belakang. “Minggir-minggir sang juara mau lewat,” katanya dengan rambut yang acak-acakan. Kancing bajunya yang terbuka separuh memperlihatkan dadanya.
Suasana masih hening ketika Rega berjalan ke depan. Hanya ada beberapa guru yang bertepuk tangan termasuk Pak Edi.
“Baju rapikan,” perintah Pak Edi pada Rega sebelum bersalaman. Rega segera merapikan bajunya lalu bersalaman dengan Pak Edi dan seluruh guru. Rega mengangkat kedua tangannya sambil bertepuk sendiri, tak lama tepukan tangannya sendiri disusul tepuk tangan Kiran dan guru. Akhirnya seluruh siswa ikut bertepuk tangan. Sesekali terdengar siswa berteriak menyebut namanya.
"Rega. Rega. Rega."
Tak ada yang menyangka seorang siswa dengan
penampilan amburadul dapat nilai tertinggi. Saat itu pula Kiran mengenal sosok
Rega dengan jelas. Rega adalah siswa pindahan dari sekolah lain, karena kenakalan
yang dibuatnya ketika berada di sekolah yang lama membuat ia terpaksa pindah ke sekolah ini. Sebenarnya sejak Rega masuk di sekolah ini Kiran sudah
mendengar dari teman-temannya bahwa ada siswa baru, siswa yang tak mengerti aturan, selalu telat dan pemalas. Entah, benar atau tidak informasi tersebut Kiran tak memperdulikan hal
itu, tak ingin banyak tahu tentangnya.
Kata-kata orang bijak tak selalu benar, pernah didengar Kiran salah seorang bijak berkata bahwa pola pikir seseorang dapat dilihat dari penampilannya. Jika
berpenampilan rapi, orang tersebut memiliki pola pikir yang baik dan positif.
Begitu juga sebaliknya, jika orang berpenampilan amburadul maka amburadul pula
pola pikirnya. Ia lupa siapa orang yang mengatakan hal itu. Namun, kali ini kalimat tersebut dipatahkan oleh seorang Rega
Ramandika, seorang siswa amburadul yang tak mengenal aturan sama sekali pikir Kiran dalam tepuk tangan dan teriakan siswa-siswi yang semakin riuh.
Keempat siswa masih berdiri di depan sana, termasuk
Kiran. Pak Edi kembali melantangkan suaranya “Sekali lagi berikan tepuk tangan
kepada para juara tahun ini,” kata Pak Edi disambut gemuruh semua siswa.
Sementara, di dalam ruangan, orangtua siswa masih
mendengarkan Pak Ali berbicara. “Untuk itu kita akan mengadakan doa bersama di
halaman.”
Orangtua siswa mulai menyiapkan diri. “Silakan Bapak
Ibu kita sama-sama ke halaman,” Pak Ali langsung berjalan keluar ruangan
bersama para orangtua.
Kiran masih berdiri tegap di depan bersama ketiga
siswa, Pak Edi dan guru-guru. Orangtua siswa mulai membanjiri halaman, berbaur dengan siswa-siswa. Terlihat di sana para orangtua siswa saling mencari
anaknya masing-masing. Bu Irma linglung di antara ratusan orang. Kepalanya berpurat-putar
mencari keberadaan anaknya. Sementara orangtua siswa yang lain sudah saling menemukan.
Kiran memanggil ibunya yang tampak bingung di bawah “Bu. Bu. Ibu.”
Bu Irma menoleh ke arah Kiran dan langsung menghampirinya. Sebuah pelukan hangat mendekap tubuh Kiran. Setelah itu Bu Irma memutuskan untuk turun. Sebelum turun Bu Irma melempar senyum kepada Rega. Rega membalas senyum Bu Irma sambil mendekat dan mencium
tangan Bu Irma untuk bersalaman.
Kiran menoleh Rega lalu bertanya “Orangtuamu mana?”
Rega merapikan rambutnya dengan lima jari kanannya
“Tidak datang,” tanpa menoleh Kiran.
“Memangnya mereka kemana? Sibuk?”
“Aku tak pernah memberitahu mereka jika hanya urusan
beginian. Undangan yang diberikan guru kemarin masih ada di tong sampah depan
kelas. Mereka terlalu sibuk untuk ikut campur urusanku.”
Kiran terhenyak. Pembicaraan mereka terputus oleh
suara Pak Ali yang berdiri di depan menggunakan pengeras suara.
“Baiklah, bapak ibu yang saya hormati serta
siswa-siswi yang saya sayangi. Alhamdulillah tak henti-hentinya kita
ucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat-Nya kita semua bisa
berbahagia pada hari ini. Sebelum kita pulang ke rumah masing-masing baiknya
kita berdoa bersama untuk mengucap syukur. Agar apa yang kita dapat hari ini
selalu direstui oleh Allah subhanahu wa ta’laa. Untuk memimpin doa saya
serahkan kepada Pak Ahmad selaku guru Agama di sekolah ini. Silakan, Pak,” Pak Ali memberikan pengeras suara kepada Pak Ahmad.
Pak Ahmad memimpin doa dengan khidmat hingga membuat
beberapa siswa menangis sambil memeluk orangtuanya. Begitupun orangtua siswa
yang terhanyut dalam suasana yang mengharukan itu tak segan menumpahkan airmata mereka.
Mata Kiran berkaca-kaca, ia turun memeluk ibunya.
Belum berlabuh di tubuh Bu Irma airmata Kiran sudah berjatuhan kemana-mana.
Suasana semakin haru ketika Pak Ahmad turut meneteskan airmata dengan suara
serak tersendat-sendat. Airmata Kiran semakin deras membasahi jilbab ibunya.
Pelukan begitu erat Bu Irma berikan pada Kiran juga dibalas pelukan erat Kiran.
Sementara di atas sana Rega hanya memandang orang-orang berpelukan. Tak ada sedih sedikit pun yang dirasakan oleh Rega. Mungkin karena dia sudah terbiasa dengan kehidupan keras di pasar hingga hatinya sudah cukup kuat mengalahkan rasa sedih. Saat itu, ia hanya memikirkan kemana dia setelah ini. Apakah akan melanjutkan sekolah atau memilih bekerja angkut barang di pasar. Ah Sudahlah, biar lain waktu memikirkan hal. itu pikir membantah pikirannya sendiri.
Baca Juga: Andai Saja Nama Agamanya Santuy
***
0 Komentar