Sejak Kepergianmu
Pada
detik-detik tegang itu detak-detak getir mengundang alunan tangis
Aku
tersekat, terseok dan tumbang, mati dalam harapan
Riang-riang
kala temaram, terkutuk pekatnya malam bersamamu
Kelam,
tenggelam membawa angan juga ingatan
Dedaun
jatuh ke tanah basah dari bibir merah muda manismu malam itu
Binar
lampu taman meluber pada tiap-tiap luka duka kabar berita kita
Rembulan
hitam menghantarkan alasan lewat kata-kata paling menawan, sekejap menghilang tertiup
angin yang tak ingin.
Semesta
malam hanya memerhatikan, diam, diam dan menertawakan keterpakuanku
Belum
sempat kusimpulkan, kau cepat-cepat meninggalkan, menyekat perjumpaan sekalian
pamit perpisahan
Pada
sajak sajak yang tak sempat kutulis
Pada
pesan yang kuceritakan pada gerimis
Pada
badai yang kalah deras oleh air mata tangis
Pada
kata yang tak lagi sepakat menjadikan kita selangkah berdua
Pada
cinta yang tak mampu keterjemahkan apa-apa
Pada
doa-doa yang tak terjamah oleh semesta
Dan,
padamu yang bukan lagi siapa-siapa
Mari
merayakan hari-hari paling duka, malam-malam paling kelam
Mari
menyongsong angka-angka kosong, huruf-huruf dan kalimat tiada arti lagi
Mari,
kita rayakan patah hati, kau seduh kopi aku menyesap sedih-sedih ini.
Baca Juga: Cerpen Di Bawah Pohon Beringin
Pontianak, 7
November 2019
Foto: www.asrarbest.com
0 Komentar